Kepemimpinan Yang Blusukan

image

Salam sejahtera teruntuk seluruh Rakyat…

Judul “kepemimpinan yang Blusukan’ ini dulu nyaris saya gunakan untuk sebuah artikel yang sedianya hendak saya kirim ke sebuah harian nasional yang humanis, peraya perbedaan….Tapi, entah, saat itu, meski terpesona, saya merasa ada yang tidak biasa dari tokoh yang hendak saya tuliskan keagungannyanya itu. Ruang batin saya seolah menolaknya, sehingga judul itu tak pernah tuntas saya tuliskan. Ternyata kata hati memang tidak sedang berdusta. Dulu ia yang mengingatkan saya seraya berkata, “Tunggu dulu barang sesaat. Jangan-jangan kita tengah diperdaya”. 

Kini, saya akan tuliskan judul ini untuk seorang tokoh yang keagungannya tak perlu disanggah. Ia manusia biasa, bukan nabi. Bukan pula manusia yang gemar dikultuskan, apalagi dinabikan. Beliau adalah pemimpin besar (great leader) yang kekuasaannya membentang tidak 
sekedar seluas Sabang_Merauke, pun dari Alor sampai Rote

Tertulis indah dalam sejarah, tatkala Umar ibn Al Khattab yang agung menyusuri kelamnya malam Madinah yang senyap….berdua sahabatnya, Aslam. Mata tajamnya tertumbuk pada sebuah kemah dengan cahaya yang meremang. Daya jelajah dan orientasi lapangan yang kuat mengajarkannya tentang sesuatu yang tidak biasa dari objek di hadapannya. Telinganya yang peka menangkap tangis berkepanjangan dari seorang anak. Terdengar pula suara seperti sesuatu yang tengah di rebus. Maka mendekatlah Umar yang agung itu ke dekat kemah. Umar pun tinggal, memperdalam observasi lapangannya. Perlahan, suara tangis itu semakin terkikis. Lalu diam, larut bersama keheningan malam…

Naluri kepemimpinannya memaksanya untuk menyambangi kemah itu. Setelah mengucap salam, terlibatlah Umar dalam perbincangan dengan pemilik kemah yang ternyata seorang ibu. Ah, rupanya ibu itu sedang memasak. Sementara anaknya yang masih kecil tertidur di dekatnya. Kuali masih di atas tungku yang menyala dengan gelegak suara merebus sesuatu.

Tatkala Umar bertanya tentang apakah gerangan yang sedang terjadi, Ibu itu bercerita bahwa ia tengah menidurkan anaknya yang rewel karena lapar. Sementara tak sebarang gandum pun ia punyai, tersebab kemiskinan yang menderanya. Lalu mengalirlah keluhan demi keluhan, kekecewaan bahkan amarah terhadap khalifah yang diangggapnya tidak adil dan tidak memperhatikan kehidupan mereka. WONG CILIK yang termarginkan.

Umar tercekat. Hati dan jiwanya terguncang hebat. Tersebab amarah kah?
Bukan! Dalam rasa keprihatinan dan rasa bersalah yang mendalam, Umar menyempatkan diri menanyakan dan melihat apakah kiranya yang tengah di rebus sang ibu? Kau tau apa yang ibu tua itu rebus, Saudaraku? Batu. Ya, Batu. Ibu itu bercerita bahwa ia tengah merebus batu. Sekedar untuk menghibur, ah bukan, tapi untuk menipu anaknya agar tertidur di tengah lapar yang mendera, karena menyangka ibunya tengah menanak gandum untuknya.

Air mata Umar tertumpah dalam diam. Lalu, khalifah yang agung ini bermohon diri bersama sahabatnya, Aslam, seraya berjanji segera akan kembali lagi. Dalam kegalauan, ia kembali menyusuri kelamnya malam Madinah. Tujuannya hanya satu. Baitul maal, gudang harta negara, tempat harta umat tersemat. Lalu Umar memilih sekarung gandum terbaik dan bersegera menaikkan gandum itu ke pundaknya.

Melihat khalifah agung itu hendak memanggul sendiri sekarung gandum di pundaknya, Aslam pun berusaha mencegahnya. “Umar, biar saya saja yang memanggul gandum itu”, sergah Aslam. Tahu kau apa kata Umar??? “Aslam, biar aku saja yang memanggulnya. Aslam, apakah engakau sanggup memangg ul dosa-dosaku di hadapan mahkamah Tuhan kelak? Apakah kemarahan Allah bisa kau halangi ketika aku, khalifah ummat, membiarkan rakyatku kelaparan?”

Subhanallah. Sebentar, ijinkan saya menyeka mata memerah tersebab air mata yang tak sadar keluar ini.

Aslampun menyerah dengan kesungguhan hati “Presidennya” ini….Berdua, mereka kembali susuri lorong madinah, kembali ke perkampunyan kemah ibu tadi. Tergesa dalam diam, dalam sepi, dalam senyap, dalam gelap. Tanpa voorijder, tanpa pengawal, tanpa penyaksi, melainkan Tuhan sahaja. Sesampainya di kemah, Umar bergegas menurunkan gandum dan meminta izin kepada pemilik rumah untuk menyiapkan makan malam mereka. Umar yang agung bahkan harus berjuang keras menyalakan tungku hingga basah wajahnya oleh keringat. Makan malam tersaji. Anak kecil yang terperdaya, tertidur dalam dera rasa lapar itu, pun dibangunkan. Semua menikmati makan malam yang telah terlalu larut itu.

Bisa kau bayangkan betapa bahagia keluarga Wong Cilik itu, saudaraku??? Mendapatkan ‘dewa penolong’ yang tidak pernah mereka duga. Ibu itu pun menjura hormat, berucap terimakasih dan menyampaikan puja-puji tak berkesudahan. Kau tahu apa yang diucapkan oleh ibu itu, Saudaraku? “Tuan, sesungguhnya tuan lebih pantas untuk menjadi seorang khalifah ketimbang Umar yang tidak tahu penderitaan rakyatnya itu”.

Bahkan, Ibu itu pun tidak tahu bahwa yang berada di hadapannya, yang mengetuk kemahnya, yang memanggul gandum, memasak, dan menyajikan makan malamnya itu adalah khalifah Ummar bin Khattab yang agung. Tercekat, Umar pun bermohon diri seraya berkata, “Ibu, jika engkau ingin bertemu Umar, temui ia di singgasananya di Ibu Kota. Lalu mintalah kepadanya hak Ibu sebagai rakyat miskin yang kebutuhannya ditanggung oleh harta negara.

Lalu, bisakah kau bayangkan, Saudaraku, ketika usai shalat Jum’at berselang hari kemudian, ibu ini menemui Khalifah Umar. Bisakah engkau rasakan ketika ia tahu bahwa laki-laki yang menjadi khalifah agung yang berada di hadapannya itu ternyata sama dengan sosok seorang ‘pemblusuk’ yang menyambangi kemahnya tempo hari.

Allaahuakbar. Inilah Umar bin Khattab. Sosok agung yang bersahaja dengan kekuasaannya tidak kurang dari 2. 251.030 mil persegi, membentang dari Mekkah 1.036 mil ke utara, 1.087 mil ke timur dan 483 mil ke selatan. Wilayah yang sangat luas ini mencakup negeri-negeri Suriah, Mesir, Khuzistan, Irak Arab dan Persia, Armenia, Adzarbaijan, Khurasan dan Makran, termasuk bagian Baluchistan (Nu’mani, 1981). Pengaruh kepemimpinan Umar bin Khattab pun diyakini lebih luas dari wilayah taklukannya, terlebih ketika cakrawala kehidupan Islam warisannya menyebar di seantero dunia termasuk Indonesia.

Leadershipnya sangat luar biasa, dibangun dengan pondasi kepribadian yang kuat dan dibingkai oleh ruh Islam yang mewarnai segenap gerak kehidupannya. Umar bin Khattab lah seorang sahabat yang keislamannya bahkan didoakan secara khusus oleh Rasulullah. Karakter kuat, visi wahyu yang divinely inspired gift, serta tempaan Rasulullah Muhammad dalam cahaya Islam yang melekat dalam diri Umar bin Khattab adalah sebuah teladan kepemimpinan authentic-indigenous yang berakar dari tradisi keislaman yang bersifat rahmatan lil ’alaamin yang melintas ruang dan waktu.

Banyak ilmuwan barat yang menaruh kekaguman dan hormat terhadap sosok Umar bin Khattab. Hanya dalam waktu satu dekade masa kekhalifahannya, Umar bin Khattab telah mampu mengembangkan dan mensyiarkan kehidupan Islam yang ditinggalkan oleh pendahulunya, Rasulullah Muhammad dan Khalifah Abu BakarAsh Shiddik. Umar bin Khattab berhasil membangun sebuah ”organisasi super besar” bernama Khilafah Islamiah dan membawanya pada masa keemasan yang adil dan makmur.

Kekaguman atas Umar bin Khattab datang dari Sir William Muir yang menyatakan bahwa kehidupan Umar bin Khattab hanya memerlukan beberapa baris untuk menggambarkannya. Kesederhanaan dan kewajiban adalah prinsip-prinsip yang membimbingnya; tidak pilih kasih dan memiliki spirit pengabdian sebagai pedoman yang menuntun kepemimpinannya.

Washington Irving menulis bahwa keseluruhan sejarah Umar menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang memiliki tenaga dan pikiran besar, integritas yang tidak dapat dibengkokkan dan keadilan yang teguh. Ia lebih dari pada yang lain, pendiri kerajaan Islam, menegaskan dan melaksanakan inspirasi-inspirasi Nabi, membantu Abu Bakar dalam masa kekhalifahannya yang singkat dengan nasehat-nasehatnya, dan menyusun peraturan-peraturan yang arif untuk pengelolaan hukum yang tegas di seluruh wilayahnya yang meluas.

Saya tak hendak meninggalkan tulisan ini sebelum berepilog dengan sebuah tanya. Saudaraku, kini kau tahu apa itu blusukan yang sesungguhnya??? Masihkan kini kau sebut blusukan segala laku ‘memblusuk’ yang dilakukan dalam keriuhan, raung sirine voorijder yang meminggirpaksakan rakyat pengguna jalan, mobil dinas yang nyaman-sejuk, layanan hotel kelas termewah, keamanan bodyguard sekampung yang bersenjata lengkap, kilatan cahaya lampu fotografi, wawancara wartawan, dan puja-puji publikasi media yang membuat rakyat terpedaya. Sungguh, tidak ada diksi yang lebih tepat untuk menyebutnya, melainkan ia sekedar bernama PENCITRAAN.

Wallahua’lam
Manusia ½ Dosen; @FapsiUndipTembalang

Sun, 8 Mar 2015 @20:02

ekspedisi

beli indonesia

 

facebook
pengunjung

Histat

dapurnya hanindafin

Hanindafin on Facebook

Copyright © 2018 Hanindafin · All Rights Reserved