RSS Feed

Hikayat Negeri "Salahnya Kodok"

image

Assalamu’alaikum, Indonesia tercinta. 

Senja mulai meremang ketika saya pulang kandang. Sambil menikmati hangatnya kopi kapal api dan ‘kripik gadhung’ khas kampung, saya menikmati tulisan Mas Bro Tara Palasara.

Sungguh, saya tergelitik dengan gambar bertuliskan Bos Korean Airlines Meminta Maaf untuk Anaknya. “Semua salah saya, karena saya tidak mendidik puteri saya dengan benar’. Salahkan saya saja”, tutur gambar seorang pria sepuh yang menjura hormat bermohon maaf.

Ah, rupanya ini cerita tentang ’Skandal Kacang’. Adalah Heather Cho, seorang wakil presiden yang bertugas mengawasi layanan pelanggan di Korean Airlines. Ia adalah puteri dari bos besarnya, Cho Yang-ho. Mendapati layanan penyajian kacang yang tidak sesuai dengan standar, ia murka. Sayangnya, Heather Cho melampiaskan amarah pada para pramugari di depan umum, memintanya berlutut, mengusirnya dari pesawat pada saat pesawat hendak lepas landas. Pesawat yang sudah diujung landasan kembali ke terminal keberangkatan dan terlambat terbang sampai 20 Menit.

Setelah kisah puterinya itu diunggah di media dan mendapatkan hujatan luar biasa dari para netizen, beberapa hari kemudian, Cho Yang-ho, Bos Puncak dari Korean Air, ayah dari Heather Cho ini, dengan terbata-bata menyatakan permintaan maaf atas tindakan putrinya. Ia mengungkapkan, bahwa putrinya berperilaku tak patut dan tidak layak untuk diterima.

"Saya minta orang-orang untuk menyalahkan saya saja, karena semuanya ini salah saya ... saya tidak mendidik putri saya dengan benar." "Putriku telah mengundurkan diri dari maskapai penerbangan itu. Perannya akan dicopot dari semua perusahaan-perusahaan yang terafiliasi," ungkap Cho Yang-ho.

 

Lain korea, lain Indonesia, negeri dengan sejuta pesona. Saya jadi teringat diskusi dengan dosen Psikologi Perkembangan saya, beberapa belas tahun silam. Ada kebiasaan khas orang Indonesia (setahu saya khususnya orang Jawa), apabila ada seorang anak kecil terjatuh karena terantuk sesuatu, kepalanya benjol karena kebentur sesuatu, apa yang biasanya dikatakan oleh orang tua atau pengasuhnya? “Kodhoke nakal” (kataknya nakal), “Kodhoke mlumpat, “Kodhoke mlayu, nanti biar Kodhoknya digebuk ya, biar nggak ngganggu adhik….”
Terkadang nggak cuman Kodhok, tapi batu, kayu, lemari, kursi, atau apapun disalahkan dan dianggap sebagai penyebab celakanya anak. “Aduh, dasar batunya nakal. Bikin adhik jatuh. Nanti batunya bunda pukul, deh”…. Kira-kira begitu kan? Sampai hari gini kebiasaan ini masih terus dilakukan…..


Sekilas, kebiasaan ini membuat nyaman anak. Tapi, menurut kajian psikologi, alih-alih melindungi anak, kebiasaan ini justru membuat anak terbiasa untuk mencari alasan dan faktor luar sebagai penyebab kegagalannya dan kemalangan. Psikologi menyebutnya ‘locus of control external’.
 
Konsep tentang Locus of control (pusat kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966), seorang ahli teori pembelajaran sosial (social learning). Locus of control merupakan salah satu bagian kepribadian (personality), yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri (Kreitner dan Kinicki, 2005). LoC internal adalah individu yang yakin bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apa-apa pun yang terjadi pada diri mereka, sedangkan LoC eksternal adalah bagi individu yang yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri mereka dikendalikan oleh kekuatan luar seperti keberuntungan dan kesempatan.

Gaya pengasuhan anak yang menyalahkan kodok, batu, lemari, kursi, atau apapun sebagai penyebab kegagalan dan kemalangan yang secara konsisten dan persisten diterapkan pada anak akan menjadi kebiasaan (habit). Lambat laun, gaya ini akan diinternalisasikan menjadi bagian kepribadian (personality) ketika ia bertumbuh dewasa. Asyiknya, kepribadian ini relatif menetap dan menjadi cara khas individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, memberi respon setiap stimulus serta menghadapi setiap persoalan problematika kehidupan. Setiap kali ada kejadian buruk yang menimpanya, maka individu yang bertumbuh dengan cerita ‘salahnya kodok’ selalu akan mencari faktor penyebab kegagalan di luar dirinya.

Segendang sepermainan dengan jurus “Salahnya Kodok”, adalah jurus pertahanan ego bernama scapegoatism, blaming others, yang diperkokoh dengan mekanisme rasionalisasi. Melalui penjelasan yang seolah-olah masuk akal, logis, padahal ngawur, Tuan Salahnya Kodok ini akan mencari tumbal bernama kambing hitam untuk disalah-salahin dan digoblok-goblokin (yang item aja lho, yang lain kaga laku. Aneh… hehehe). Sementara ia sendiri akan menempatkan dirinya di tahta tertinggi, selalu benar, suci dan tidak pernah salah (padahal nabi aja tak luput dari salah lho).

Sebaliknya, setiap kali ada sejumput kebaikan, ia selalu akan menisbatkannya dirinya sebagai penentu yang menyebabkan sesuatu yang bersifat positif itu terjadi. Tanpanya, tak mungkin akan ada prestasi. Ini yang oleh temen2 Psikologi Sosial sering disebut sebagai self serving bias, suatu kesalahan atribusi yang sangat fundamental (fundamental atribution error) yang menempatkan kegagalan berasal dari faktor luar diri, sedangkan keberhasilan dari faktor dalam diri individu.

Di level individu, kita bisa bilang, “Ah, itu ‪#‎bukanurusansaya. Sak karepmu. Urip urip mu dhewe”. Tapi bayangkan ketika karakter ini melekat pada diri para pemimpin di sebuah negeri yang sangat besar, sangat plural, sangat indah dan sangaaaaat kaya dengan sumber daya alam yang terlalu seksi untuk tidak dikerjai???

Lebih celaka lagi ketika banyak manusia terpedaya oleh sihir media. Lalu mereka menjadi para pemuja yang membabi buta, hingga hilang, nalar, kewarasan, akal sehat dan logika. Aturan pokoknya, bahwa para pemimpin pujaan mereka ’nora kepatrapan luput lali” (tidak punya sifat salah dan lupa). Kayak ospek itu lho. Pasal 1. Para pemimpin tidak pernah salah. Pasal 2. Dalam hal para pemimpin berbuat salah, maka segeralah bertobat dan kembali pada pasal 1. Pasal 3. Gitu lho rulesnya…hahaha.

Jadi, menanti “Skandal Kacang” terjadi di negeri ini, berharap sikap ksatria dari para pemimpin bangsa, barangkali itu hanyalah mimpi di siang hari belaka. Yang bisa kita jumpai adalah tipikal pemimpin yang gemar lempar batu sembunyi tangan, hobby bikin keruh tapi kagak solutif, berkhianat pada wong cilik yang berhasil dilicikinya.

 

(Gombalist; Manusia ½ Dosen)

Thu, 12 Mar 2015 @17:59


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 3+6+7

Produk baru
Paprika Concept
fresh from Hanindafin
ekspedisi

beli indonesia

 

facebook
pengunjung

Histat

dapurnya hanindafin

Hanindafin on Facebook

Copyright © 2018 Hanindafin · All Rights Reserved