It's (not) Hard to Be a Father (2)

image

Seakan-akan, ayah, antara ada dan tiada. Wujuduhuka’adamihi’ dalam hal pengasuhan anak. Secara kultural, budaya patrilineal masyarakat kita mengajarkan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak ada di tangan ibu. Sedangkan ayaah, berada di sektor publik menjadi money privider. 

Namun, riset-riset terbaru di bidang psikologikontemporer, menunjukkan bahwa ayah sesungguhnya memiliki kedudukan yang sangat sentral dalam parenting. Posisi ayah, bukan sebagai pelengkap dalampengasuhan anak. Sebagian teoritisi menawarkan prinsip coparenting. Dalam peengasuhan anak, kedudukan ayah dan ibu sama-sama penting dan sama-sama tidaktergantikan.

 Lamb dalam bukunya The Role of The Father inChild Development (2010) menuliskan bahwa Ayah harus cakap memainkan beberapaperan (role) . Pertama, sebagai pencari nafkah (money provider) . Kedua,sebagai kepala keluarga. Ketiga, guru moral atau teladan. Keempat, sebagaipelindung keluarga dan pemberi kasih sayang. Kelima, sebagai pemberi nasihatyang mendidik anak. Sungguh, bukan peran yang sederhana bukan?

Riset-riset lain yang dilakukan penulis dalam penyusunan tesis di Pascasarjana Psikologi UGM, serta penelitian bersama beberapa mahasiswa Fakultas Psikologi Undip (2013) menunjukkan bahwa anak-anak yang mempersepsikan ayahnya sebagai sosok ayah yangbaik dalam pengasuhan, ternyata memiliki motivasi berprestasi yang jauh lebih tinggi, memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Keterlibatan remaja melakukankenakalan (juvenile delinquency)pun lebih rendah apabila ia mendapatkanfathering yang baik dari ayahnya.

 Anak yang kurang mendapatkan sentuhan dari ayahnya lazimnya mengalami permasalahan dalam bidang akademik, motivasi dan prestasi belajar menurun.  Perkembangan kognitif,afektif, kompetensi sosial, dan psikomotor sejak dini dipengaruhi oleh sentuhankelekatan (attachment) , ikatan emosional (emotional bonding) serta ketersediaan sumber daya yang diberikan oleh ayahnya.

Sayangnya, akibat kesibukannya, kuantitas waktukebersamaan dengan keluarga, terutama anak, menjadi semakin terbatas. Fokuspada pekerjaan dan sektor publik seringkali masih merampas kualitas relasidengan keluarganya. Akibatnya, Ayah yang memiliki citra keperkasaan,ketangguhan dan kekokohan sosok, relatif jauh dari anak-anaknya dan seakanmelepas tanggungjawab dalam membina dan menumbuhkembangkan kehidupan anaksecara langsung.

Menarik sekali membaca kultwit @ajobendri bertajuk NEGERI TANPA AYAH. Saya khawatir inilah yang tengah terjadi pada negeri ini, Indonesia Raya Tercinta. Sila disimak bersama...

1| Jika memiliki anak sudah ngaku-ngaku jadi AYAH, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola


2| AYAH itu gelar untuk lelaki yg mau dan pandai mengasuh anak bukan sekedar 'membuat' anak

3| Jika AYAH mau terlibat mengasuh anak bersama ibu, maka separuh permasalahan negeri ini teratasi

4| AYAH yang tugasnya cuma ngasih uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Didatangi saat anak butuh saja

5| Akibat hilangnya fungsi tarbiyah dari AYAH, maka banyak AYAH yg tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah

⛅ 6| Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggung jawab AYAH ?

7| Jika ada anak durhaka, tentu ada juga AYAH durhaka. Ini istilah dari umar bin khattab

AYAH durhaka bukan yg bisa dikutuk jadi batu oleh anaknya. Tetapi AYAH yg menuntut anaknya shalih dan shalihah namun tak memberikan hak anak di masa kecilnya

9| AYAH ingin didoakan masuk surga oleh anaknya, tapi tak pernah berdoa untuk anaknya

10| AYAH ingin dimuliakan oleh anaknya tapi tak mau memuliakan anaknya

11| Negeri ini hampir kehilangan AYAH. Semua pengajar anak di usia dini diisi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap fatherless country

12| Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan di usia dini. Dimana AYAH sang pengajar utama ?

13| Dunia AYAH saat ini hanyalah Kotak. Yakni koran, televisi dan komputer. AYAH malu untuk mengasuh anak apalagi jika masih bayi

14| Banyak anak yg sudah merasa yatim sebelum waktunya sebab AYAH dirasakan tak hadir dalam kehidupannya

15| Semangat quran mengenai pengasuhan justru mengedepankan AYAH sebagai tokoh. Kita kenal Lukman, Ibrahim, Ya'qub, Imron. Mereka adalah contoh AYAH yg peduli

16| Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata: Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah AYAH

17| Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada AYAHnya bukan ibu. Nasab yg merujuk pada anak menunjukkan kepada siapa Allah meminta pertanggungjawaban kelak

18| Rasulullah yg mulia sejak kecil ditinggal mati oleh AYAHnya. Tapi nilai-nilai keAYAHan tak pernah hilang didapat dari sosok kakek dan pamannya

19| Nabi Ibrahim adalah AYAH yg super sibuk. Jarang pulang. Tapi dia tetap bisa mengasuh anak meski dari jauh. Terbukti 2 anaknya menjadi nabi

20| Generasi sahabat menjadi generasi gemilang karena AYAH amat terlibat dalam mengasuh anak bersama ibu. Mereka digelari umat terbaik.

21| Di dalam quran ternyata terdapat 17 dialog pengasuhan. 14 diantaranya yaitu antara AYAH dan anak. Ternyata AYAH lebih banyak disebut

22| Mari ajak AYAH untuk terlibat dalam pengasuhan baik di rumah, sekolah dan masjid

23| Harus ada sosokp AYAH yg mau jadi guru TK dan TPA. Agar anak kita belajar kisah Umar yg tegas secara benar dan tepat. Bukan ibu yg berkisah tapi AYAH

24| AYAH pengasuh harus hadir di masjid. Agar anak merasa tentram berlama-lama di dalamnya. Bukan was was atau merasa terancam dengan hardikan

25| Jadikan anak terhormat di masjid. Agar ia menjadi generasi masjid. Dan AYAH yang membantunya merasa nyaman di masjid

26| Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan AYAH yang menjadi kepala sekolahnya

27| AYAH kepala sekolah bertugas menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Selain juga membuat nyaman suasana sekolah yakni ibunya

28| Jika AYAH hanya mengurusi TV rusak, keran hilang, genteng bocor di dalam rumah, ini bukan AYAH 'kepala sekolah' tapi AYAH 'penjaga sekolah'

29| Ibarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah AYAH dan ibunya

30| Ibu mengasah kepekaan rasa, AYAH memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak

31| Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika AYAH tak ada, anak tak punya kecerdasan logika

32| AYAH mengajarkan anak menjadi pemimpin yg tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yg peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama

33| Hak anak adalah mendapatkan pengasuh yg lengkap. AYAH terlibat, ibu apalagi

34| Mari penuhi hak anak untuk melibatkan AYAH dalam pengasuhan. Semoga negeri ini tak lagi kehilangan AYAH

35| Silahkan share jika berkenan agar makin banyak AYAH yang peduli dengan urusan pengasuhan.

 

 

 

Courtessy pict ihei.wordpress.com

Mon, 16 Mar 2015 @20:52

ekspedisi

beli indonesia

 

facebook
pengunjung

Histat

dapurnya hanindafin

Hanindafin on Facebook

Copyright © 2018 Hanindafin · All Rights Reserved