Hanindafin, Sebuah Perjalanan

...tentang 'The Power of Kepepet'

 

Hanindafin berangkat dari sebuah rumah kontrakan di sebuah perumahan di Jalan Kaliurang Ngayogyokartohadiningrat KM 8,5. 

Akhir 2009 adalah saat-saat yang tidak sederhana bagi kami ketika kami harus ‘bedhol keluarga’ ke Yogya. Kebetulan suami yang seorang dosen di sebuah PTN di Jawa tengah harus menempuh studi di Pascasarjana Psikologi di Universitas Gadjah Mada.

Meninggalkan home base kami di Semarang menuju Yogyakarta, dengan membawa serta dua satria kecil kami, tentu bukan perkara sederhana bagi seorang pegawai negeri golongan IIIa. Secara finansial, terjadi guncangan yang nyaris 7 Skala Richter. Status sebagai mahasiswa merombak struktur finanisal kami, karena praktis kami hanya bisa mengandalkan gaji sebagai seorang dosen berpangkat asisten ahli, serta beasiswa yang kadang enggak jelas datangnya.

Beruntung, suamiku dianugerahi talenta menulis. Beliau adalah seorang penulis di beberapa media cetak nasional maupun lokal. Menjadi ‘pengrajin artikel’, begitu suamiku sering bilang, ternyata lumayan membantu mengepulkan dapur keluarga.

Tapi nampaknya pengeluaran yang semakin besar untuk kebutuhan kuliah, bayar kontrakan rumah, kebutuhan sekolah anak, susu untuk anak2 membuat kami harus bekerja lebih hebat dari biasanya. Nyaris setiap bulan, kami harus 'minjem' kepada kakak, uang untuk beli susu jagoan2 kami.

Apalagi ketika kami mendapati kabar bahwa rumah kecil kami di Semarang rusak parah sehingga butuh dana perbaikan yang tidak sedikit membuat kami harus berjibaku, bahkan terkadang mesti berakrobat finansial.  

Sedangkan saya dari awal memang memilih berkarier menjadi ibu rumah tangga 100%. Hingga pada suatu saat, dalam diskusi kami, suamiku berkata, “Dhik, I’m give Up’. Bantu ayah menjemput rizki kita”.

Meretas Asa Wirausaha

Lalu, Tuhan mulai memandu kami, memberikan kekuatan dan petunjuk di tengah kondisi kepepet itu.   Berawal dari modal 2 juta rupiah hasil pinjaman dari saudara, antara takut dan harap, kami mencoba membangun usaha berupa lapak kecil online. 

Bisnis on line kami pilih karena segi kepraktisan dan sedikit kemampuanan pengalaman saya bermain-main dengan komputer. Facebook menjadi media pemasaran awal kami (thanks to Mark Zuckerberg untuk teknologinya, hehehe) karena gratis dan saat itu baru mulai booming.

 Memulai dari zero friend list , kami harus memutar otak, mengajukan friend request yang kami pilih acak. Karena target market kami adalah anak2, maka kami pilih nama-nama user yang kira2 memiliki anak yang maish kecil. Biar permintaan pertemanan kami diterima, kami memang sengaja tidak mengguunakan nama online shop ….hihihi.   Photonya pun kami pilih anak gambar anak kecil yang lucu dan mengemaskan. 

Hanindafin kami pilih karena sebenarnya nama ini kami siapkan sebagai nama anak. Kami berharap bisa merawat usaha ini sebagaimana anak kami, yang kami jaga dengan sepenuh cinta.  

Awalnya kami berjualan pakaian dan pernak-pernik anak dengan cara berbelanja via on line. Mungkin karena kami benar-benar baru di bisnis on line, ajaibnya, modal awal 2 juta itu nyaris ludes tak berbekas. Banyak barang yang tidak terjual. hiks...hiks....(asyiknya, sebagian hingga kini masih kami simpan sebagai memorabilia)

Jatuh-bangun kami merintis usaha, sungguh tidak sederhana, bahkan hingga kami kembali ke Semarang. Kondisi saat itu suami belum lulus, nggak boleh mengajar, jauh dari sertifikasi, dengan gaji di rekening hanya sejumlah ratusan ribu, benar-benar membuat kami harus berjibaku.

Kami jualaan apa saja, yang penting halal. Mulai dari baju anak, kaus kaki karakter, donut maker, termometer, baju renang, mainan edukatif, baju renang, kacamata renang, sarung, mukena, kerudung, gamis, selimut, gorden tenun, sepatu roda, wall sticker, sprei pabrikan hingga jualan panci….hihihi.

Karena kami harus menjadi team work yang kokoh, suamiku yang adalah seorang dosen pun involve dengan cara yang luar biasa, terlebih kami belum punya karyawan saat itu. Tidak sekedar berbelanja barang dagangan, sepulang mengajar, terkadang masih harus packing paket, foto display produk, mengirim paket ke ekspedisi. Sambil guyon, terkadang suamiku menyebut dirinya sebagai manusia 1/2 dosen. (Wah, seru juga mengenang waktu itu. Insyaallah nanti kami kepengin tuliskan dalam sebuah buku kecil untuk sharing pengalaman).

Alhamdulillah Allah memberikan kami kekuatan dan kenekatan untuk terus bertahan. Meski kini kami belumlah siapa-siapa, tapi kami terus belajar bertumbuh dan bertransformasi menjadi sebuah industri konveksi rumahan. Seiring berjalannya waktu, kami menemukan passion kami di dunia gombal, sehingga kami sering menyebutnya sebagai ‘bisnis gombal/nggombal’. Bukan gombal yang berarti pembohong atau perayu lho. Di Jawa, kami biasa menyebut kain dengan istilah gombal.

Tidak terasa, ada belasan penjahit yang diamanahkan Tuhan membersamai kami berproduksi di workshop rumahan kami di kawasan Tembalang (deket Undip Semarang). Puluhan reseler, ribuan sprei, bed cover, home set dan ribuan gorden yang kami produksi berdasarkan permintaan customer (made by order) telah kami persembahkan.

Kolega kami, perusahaan ekspedisi, telah mengantarkan ribuan paket untuk pelanggan kami yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia Raya tercinta. Dari Aceh hingga Papua, Dari Bali hingga Sulawesi. Dari Madura hingga Sangatta. Kami, lalu menjadi sebuah team work yang saling membersamai menjaga mata air rizki kami ini. Tentu kami tak hendak menjadikan bisnis kami sebagai bisnis tipu-tipu karena di sinilah rizki kami Tuhan mataairkan.

Prinsip kami, customer adalah keluarga, sahabat, kolega, bahkan terkadang menjadi guru kami yang mesti kami perlakukan dengan segenap kejujuran dan kami layani setulus hati. 

Sepenuh hati kami berharap pengunjung lapak kami berkenan menjadi bagian dari keluarga Hanindafin. Menjadi pelanggan setia yang tidak sekedar membeli produk kami, tetapi juga menjadi advisor tempat kami meminta nasihat, guru tempat kami belajar dan partner untuk kami terus bertumbuh. Tegur, sapa, dan ingatkan kami jikalau kami berlaku tidak amanah, tidak jujur, dan tidak terpercaya. Ajari kami menjaga trust yang menjadi mata air rejeki kami.

 

Salam Hangat dari Tembalang

Semarang, Jawa Tengah, Indonesia

 

 

 

Manajemen Hanindafin

Diah Prasetyarini

081901699109

P in 26D40672 / 2ACC4BA4

CS. 2B40B3C3


Fri, 22 Mar 2013 @15:52

ekspedisi

beli indonesia

 

facebook
pengunjung

Histat

dapurnya hanindafin

Hanindafin on Facebook

Copyright © 2018 Hanindafin · All Rights Reserved